Jusuf Kalla Beri Dukungan untuk Tanah Runtuh, Film tentang Kemanusiaan di Tengah Konflik Poso yang Tayang Hari Ini di Seluruh Bioskop Indonesia.

Mengangkat latar konflik Poso dengan karakter utama seorang anak Down Syndrome, Tanah Runtuh hadir sebagai film yang berani, menempatkan kemanusiaan, kasih sayang keluarga, dan semangat saling menjaga di jantung salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Jakarta, 25 Juni 2026 – Digital Media Indo - Film Tanah Runtuh resmi tayang hari ini di seluruh bioskop Indonesia. Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduseri oleh Denny Siregar, film ini mengambil latar konflik Poso, Sulawesi Tengah, salah satu peristiwa kerusuhan paling memilukan dalam sejarah Indonesia, untuk menceritakan sesuatu yang jauh lebih universal: bagaimana dua anak mencari ibunya, bagaimana manusia memilih untuk saling menjaga, dan bagaimana cinta tetap bertahan ketika segalanya terasa runtuh.

Peluncuran film ini mendapat dukungan dari Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam proses perdamaian Poso. Bagi Jusuf Kalla, film ini bukan sekadar karya sinema, melainkan pengingat tentang apa yang sesungguhnya dipertaruhkan ketika sebuah komunitas terpecah. Dengan latar belakang konflik Poso, banyak perlu menjadi perhatian dan bagaimana kehidupan toleransi berjalan baik," kata Jusuf Kalla.

Konflik Poso yang berlangsung antara 1998 hingga awal 2000-an meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia secara keseluruhan, namun Tanah Runtuh tidak memilih untuk memalingkan muka dari kenyataan itu. Sebaliknya, film ini memilih berdiri tepat di tengah-tengahnya dengan perspektif yang jarang diambil, sepasang mata seorang anak.

Sutradara Rudi Soedjarwo menjelaskan mengapa ia memilih pendekatan ini. "Saya tidak tertarik membuat film tentang konfliknya. Yang menarik buat saya adalah manusia-manusia yang harus hidup di tengah situasi itu. Bagaimana seorang ibu mencari anaknya, bagaimana seorang kakak menjaga adiknya, dan bagaimana orang-orang yang tadinya asing memilih untuk saling menjaga. Itu yang menurut saya paling manusiawi,"ujar Rudi Soedjarwo.

Produser Denny Siregar menegaskan bahwa keberanian mengangkat latar Poso adalah keputusan yang disengaja, bukan untuk membuka kembali luka lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa di tengah peristiwa paling gelap sekalipun, kemanusiaan tidak pernah benar-benar padam.

"Hari ini kita hidup di masa ketika semua orang seperti sedang marah, takut, dan lelah. Kita terlalu sering melihat dunia dengan prasangka dan kebisingan. Lewat film ini, saya merasa kita diingatkan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana: bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus melihat perbedaan," kata Denny Siregar.

Di tengah latar konflik yang berat, Tanah Runtuh menjadikan seorang anak dengan Down Syndrome bernama Ringgo sebagai pusat perjalanan emosionalnya. Ringgo, diperankan oleh Ridho Khaliq yang sendiri adalah penyandang Down Syndrome, bukan hadir sebagai simbol, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai manusia yang utuh dengan rasa takut, kasih sayang, dan cara pandang yang justru menjadi cermin bagi semua karakter di sekitarnya.

Ketika dunia di sekitar Ringgo dipenuhi kemarahan dan kekerasan yang ia tidak sepenuhnya pahami, ia hanya tahu satu hal, ia ingin menemukan ibunya, dan ia menyayangi semua orang yang menyayanginya. Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan moral film ini.

Ridho Khaliq berbicara tentang karakternya dengan cara yang paling sederhana dan paling tulus. "Ringgo itu sayang sama Ibu, sayang sama Kai, dan sayang sama semua orang. Aku senang bisa jadi Ringgo. Senang kalau orang-orang suka sama filmnya," ujar Ridho Khaliq.

Vino G. Bastian, yang memerankan Idham, seorang anggota yang tanpa rencana menjadi pelindung Kai dan Ringgo, mengaku bahwa bekerja bersama Ridho mengubah cara ia melihat banyak hal. "Ada kejujuran, ada cinta, dan ada ketulusan dalam cara Ringgo melihat dunia, sesuatu yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini. Di tengah konflik yang besar dan penuh kebencian, Ringgo tidak melihat musuh. Dia hanya melihat manusia. Itu yang menurut saya paling kuat dari film ini," kata Vino G. Bastian.

Tanah Runtuh melakukan dua hal yang jarang terjadi sekaligus dalam satu film Indonesia: mengangkat peristiwa konflik komunal yang selama ini jarang disentuhsinema nasional, dan menempatkan seorang penyandang Down Syndrome sebagai karakter utama yang kompleks dan berdimensi.

Keduanya bukan kebetulan. Keduanya adalah pilihan yang disengaja, sebuah keyakinan bahwa layar lebar Indonesia sudah saatnya memberi ruang bagi cerita-cerita yang selama ini ada di pinggiran: cerita tentang mereka yang paling rentan, yang paling sering diabaikan, namun justru membawa cahaya paling terang di tengah kegelapan.

Melalui Ringgo, Tanah Runtuh menunjukkan bahwa bahkan ketika tanah di bawah kaki terasa runtuh, akibat konflik, kebencian, atau ketakutan, ada satu hal yang tidak dapat ikut runtuh: kemampuan manusia untuk mencintai.

Tayang Hari Ini, 25 Juni 2026, di Seluruh Bioskop Indonesia Tanah Runtuh dibintangi oleh Vino G. Bastian, Ridho Khaliq, Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, Tubagus Ali, Agnes Naomi, Jerry Likumahwa, Royhan Hidayat, Tike Priatnakusumah, Luna Allegra, dan Sari Koeswoyo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

film “402: Rumah Sakit Angker Korea”, sebuah adaptasi resmi dari film horor Korea Selatan, Gonjiam: Haunted Asylum akan tayang 9 Juli 2026 di Bioskop

Film komedi horor persembahan Starvision dan Skak Studios, akan melanjutkan kisahnya dalam SEKAWAN LIMO 2: Gunung Klawih, dan tayang di Bioskop mulai 27 Mei 2026

Film AGAK LAEN: Menyala Pantiku! melelang poster bertanda tangan seharga Rp22 juta untuk didonasikan ke korban banjir di Sumatra dan Aceh