Industri film Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran “Riba”, sebuah film horor religi yang terinspirasi dari fenomena sosial yang masih terjadi di berbagai wilayah: jeratan hutang riba dan praktik pesugihan

"Riba” Hadirkan Teror dari Dunia Nyata: Horor Religi yang Angkat Isu Hutang dan Pesugihan Modern

Industri film Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran “Riba”, sebuah film horor religi yang terinspirasi dari fenomena sosial yang masih terjadi di berbagai wilayah: jeratan hutang riba dan praktik pesugihan. Dengan pendekatan realis, film ini mencoba menampilkan sisi gelap kehidupan masyarakat yang kerap memilih jalan pintas demi bertahan hidup.

Kisah dalam “Riba” berfokus pada sebuah keluarga sederhana yang kehidupannya berubah drastis setelah terjerat utang kepada seorang juragan yang dikenal angkuh dan tak berbelas kasih. Tekanan demi tekanan membuat sang ayah kehilangan harapan untuk memperbaiki keadaan, hingga ia bertemu dengan seseorang yang menawarkan pilihan ekstrem: pesugihan “Getih Anak”.

Pesugihan tersebut digambarkan sebagai ritual kelam yang menjanjikan harta berlimpah, namun menuntut pengorbanan besar. Tidak hanya mengguncang psikis sang ayah, keputusan itu juga membawa teror tak kasatmata yang perlahan meruntuhkan keharmonisan keluarga. Konflik emosional yang muncul membuat film ini terasa sangat dekat dengan isu nyata di masyarakat.

Uniknya, “Riba” tidak hanya menonjolkan horor, tetapi juga sisi drama keluarga yang kuat. Penonton diajak menyaksikan bagaimana tekanan ekonomi mampu menghancurkan moral seseorang, serta bagaimana dampaknya menyebar ke seluruh anggota keluarga. Pendekatan ini membuat alur cerita lebih dalam dan memberikan dimensi kemanusiaan di balik aspek supranaturalnya.

Deretan aktor yang menghidupkan film ini turut menjadi sorotan. Ibrahim Risyad tampil sebagai tokoh ayah yang gelap dan penuh dilema, sementara Fanny Ghassani berperan sebagai ibu yang berjuang menjaga keluarganya tetap utuh. Wafda Saifan, Emilat Morshedi, Kevin Danu, dan Jajang C. Noer menambah kekuatan naratif melalui karakter-karakter yang misterius dan penuh intensitas.

Secara teknis, film ini dibangun dengan suasana kelam yang konsisten, didukung pencahayaan redup, scoring bernuansa mistis, serta penggambaran ritual pesugihan yang dibuat detail namun tetap menjaga etika visual. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan ketegangan tanpa harus mengandalkan jump scare berlebihan.

“Riba” hadir bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai refleksi atas fenomena sosial yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan. Film ini mengingatkan bahwa keputusan yang lahir dari keputusasaan sering kali membawa konsekuensi mengerikan, dan bahwa jalan pintas tak pernah memberikan solusi sejati.

Dengan pesan moral yang kuat dan eksekusi horor yang matang, “Riba” berpotensi menjadi salah satu film horor religi yang paling diperbincangkan tahun ini. Film ini diperkirakan akan memicu diskusi publik mengenai bahaya riba, pesugihan, serta tekanan ekonomi yang dapat menggiring seseorang pada pilihan berbahaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yakin Nikah resmi memperkenalkan teaser trailer yang membuka lebih jauh perjalanan Niken (Enzy Storia) menempuh realita hubungan masa kini, yang penuh ujian dari keluarga dan ekspektasi sosial.

Film AGAK LAEN: Menyala Pantiku! melelang poster bertanda tangan seharga Rp22 juta untuk didonasikan ke korban banjir di Sumatra dan Aceh

Teaser Poster film terbaru Adhya Pictures, Yakin Nikah, sebuah kisah romance gemes yang hangat, ringan, tapi sarat makna. Untuk mengikuti perjalanan kisah cinta Niken yang dihadapkan pada pilihan menikah demi tradisi atau demi cinta, dan siapakah yang benar-benar layak jadi teman hidup seumur hidupnya